Sebuah ilustrasi jika penyimpanan dengan Project Silica
Teknosarena - Era Baru Penyimpanan Data, Pernahkah Anda membayangkan, ke mana perginya ribuan foto kenangan, dokumen pekerjaan, atau video kucing lucu kita dalam 50 atau 100 tahun ke depan? Jika Anda menjawab "disimpan di Hardisk atau SSD", ada kenyataan pahit yang harus kita telan: perangkat tersebut tidak abadi. Hardisk (HDD) memiliki komponen mekanik yang bisa aus, sementara SSD (Solid State Drive) memiliki batas umur pakai chip memori yang bisa kedaluwarsa. Rata-rata, dalam 10 tahun, data di dalamnya mulai berisiko menguap atau rusak.
Namun, belakangan ini muncul kabar yang terdengar seperti film fiksi ilmiah: manusia mulai menemukan cara menyimpan data tanpa perlu SSD maupun HDD. Berita ini benar adanya. Kita sedang berada di ambang revolusi besar di mana data digital tidak lagi disimpan dalam piringan magnetik atau aliran listrik, melainkan di dalam material abadi seperti kaca kuarsa dan molekul DNA.
Penyimpanan di Dalam Kaca, Sebuah Project Silica yang "Ambisius" Salah satu terobosan paling nyata saat ini dipelopori oleh Microsoft melalui sebuah inisiatif bernama Project Silica. Bayangkan sepotong kaca bening seukuran kartu ATM, namun di dalamnya tersimpan data sebesar terabyte.
Teknologi ini tidak bekerja dengan cara menulis di atas permukaan kaca, melainkan di dalam struktur kaca tersebut. Menggunakan laser femtosecond (laser dengan denyut super cepat), ilmuwan menciptakan pola mikroskopis tiga dimensi di dalam kaca kuarsa. Data ini kemudian dibaca oleh mikroskop yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI).
Apa yang membuatnya sangat menarik secara manusiawi? Ketahanannya. Kaca ini hampir tidak bisa hancur oleh waktu. Dalam uji cobanya, lempengan kaca ini direbus dalam air mendidih, dipanggang di dalam oven, digosok dengan sabut baja, hingga dimasukkan ke dalam microwave, dan hasilnya? Datanya tetap terbaca dengan sempurna tanpa cacat sedikit pun. Microsoft mengklaim teknologi ini bisa bertahan hingga 10.000 tahun. Artinya, jika Anda menyimpan foto keluarga di sini, cicit dari cicit Anda ribuan tahun lagi masih bisa melihatnya dengan kualitas yang sama persis.
DNA Storage, Mengarsip Data di "Blok Bangunan" Kehidupan, Jika penyimpanan kaca terasa sangat tangguh, maka DNA Storage adalah tentang kapasitas yang tidak masuk akal. Alam semesta sudah punya "hardisk" paling efisien sejak jutaan tahun lalu, yaitu DNA kita sendiri. Di dalam untaian DNA yang sangat kecil, alam menyimpan seluruh instruksi untuk membangun tubuh manusia yang kompleks.
Para ilmuwan kini mencoba melakukan hal yang sama untuk data digital. Caranya, kode biner komputer (angka 0 dan 1) diubah menjadi kode genetik (huruf A, C, G, dan T). Kode-kode ini kemudian "disintesis" menjadi untaian DNA buatan.
Keunggulannya luar biasa. Pertama, kapasitasnya. Secara teoritis, seluruh data yang ada di internet dunia saat ini bisa dimasukkan ke dalam wadah seukuran bola pingpong jika menggunakan penyimpanan DNA. Kedua, keawetannya. Kita bisa menemukan DNA mammoth yang sudah membeku selama puluhan ribu tahun dan masih bisa membaca informasinya. Jika disimpan di suhu yang tepat, data digital di dalam DNA tidak akan pernah rusak.
Mengapa Kita Harus Peduli? Mungkin Anda bertanya, "Kenapa harus repot-rebut pakai kaca atau DNA kalau SSD saya sekarang sudah cukup cepat?" Jawabannya adalah soal keberlanjutan dan lingkungan.
Dunia kita saat ini sedang mengalami "obesitas data". Setiap menit, jutaan jam video diunggah ke YouTube, dan triliunan pesan dikirim lewat WhatsApp. Untuk menyimpan itu semua, perusahaan raksasa seperti Google dan Microsoft harus membangun gedung pusat data (data center) raksasa yang luasnya berhektar-hektar. Gedung-gedung ini memakan listrik yang sangat besar hanya untuk sistem pendingin agar HDD dan SSD di dalamnya tidak kepanasan dan rusak.
Dengan teknologi kaca atau DNA, kita tidak butuh listrik untuk menjaga data tetap ada. Sekali data ditulis di kaca, kaca itu bisa ditaruh di rak biasa tanpa pendingin ruangan selama ribuan tahun. Ini adalah solusi hijau yang akan menyelamatkan bumi dari pemborosan energi digital.
Kapan Kita Bisa Menikmatinya di Rumah? Meski beritanya benar dan teknologinya sudah ada, kita harus sedikit bersabar. Saat ini, biaya untuk "menulis" data ke dalam kaca atau DNA masih sangat mahal. Selain itu, kecepatan membacanya pun belum secepat SSD yang kita pakai untuk main game atau mengedit video.
Untuk tahap awal, teknologi ini akan digunakan oleh institusi besar seperti arsip nasional, perpustakaan dunia, atau bank untuk menyimpan data penting yang tidak boleh hilang selamanya. Namun, sama seperti teknologi komputer zaman dulu yang awalnya memenuhi satu ruangan besar dan sekarang muat di kantong celana, teknologi penyimpanan abadi ini pun lambat laun akan mengecil dan menjadi murah.
Mungkin dalam 15 atau 20 tahun lagi, Anda tidak akan lagi membeli "External Hardisk", melainkan sebuah kepingan kaca kecil nan cantik yang berisi seluruh memori hidup Anda dari bayi hingga tua, tanpa perlu takut rusak terkena air atau magnet.
Berita tentang penyimpanan tanpa SSD dan HDD bukanlah hoax atau sekadar mimpi di siang bolong. Ini adalah solusi nyata bagi umat manusia untuk menjaga sejarahnya agar tidak hilang dimakan zaman. Kita sedang berpindah dari era "penyimpanan sementara" ke era "penyimpanan abadi".
Masa depan di mana data digital menyatu dengan material alam sudah di depan mata. Dan saat hari itu tiba, kekhawatiran kita akan kehilangan file penting akibat "hardisk jebol" akan menjadi cerita kuno yang kita ceritakan kepada anak cucu sambil menunjukkan kepingan kaca kuarsa yang bening dan abadi.
