ilustrasi ByteDance, NVIDIA serta Huawei
Teknosarena - Dunia teknologi hari ini sedang berada di titik didih yang unik. Jika kita bicara tentang mesin di balik layar yang menggerakkan video-video TikTok agar tetap relevan di beranda Anda, atau bagaimana chatbot Doubao bisa menjawab pertanyaan dengan cerdas, jawabannya cuma satu: Chip AI.
Selama bertahun-tahun, NVIDIA adalah "raja" yang tak tergoyahkan bagi ByteDance. Namun, kabar terbaru di awal 2026 ini mengejutkan pasar. ByteDance, raksasa di balik TikTok, dilaporkan mulai memborong chip AI dari Huawei dalam skala besar. Pertanyaannya, apakah ini langkah sukarela karena Huawei sudah lebih hebat, atau sebuah langkah "terpaksa" demi bertahan hidup?
Hubungan yang Rumit karena Sanksi, Mari kita jujur: jika ByteDance punya pilihan bebas, mereka kemungkinan besar akan tetap mengantre di depan pintu NVIDIA. Chip NVIDIA, terutama seri Blackwell atau H200, adalah standar emas. Namun, geopolitik berkata lain. Pemerintah Amerika Serikat terus memperketat keran ekspor teknologi ke China.
Akibatnya, NVIDIA hanya boleh menjual chip versi "lemah" ke China (seperti seri H20). Bagi perusahaan sebesar ByteDance yang sedang ambisius melatih model bahasa besar (LLM), menggunakan chip yang performanya dipangkas itu rasanya seperti mencoba memenangkan balapan Formula 1 menggunakan mesin mobil keluarga. Tidak nyambung. Inilah yang membuat ByteDance mulai melirik Huawei sebagai tetangga yang punya solusi "lokal tapi vokal".
Huawei Ascend, Sang Penyelamat dari Dalam Negeri, Huawei, yang sempat terpuruk akibat sanksi beberapa tahun lalu, ternyata melakukan comeback yang luar biasa. Chip seri Ascend 910B dan yang terbaru 910C kini bukan lagi sekadar pelengkap. Di atas kertas, Huawei mengklaim performa chip mereka mulai mendekati kemampuan NVIDIA H100.
Bagi ByteDance, beralih ke Huawei bukan sekadar soal spesifikasi teknis, tapi soal kepastian pasokan. Di tengah ketidakpastian politik, memiliki mitra yang berada dalam satu negara memberikan rasa aman. Mereka tidak perlu takut kiriman chip tiba-tiba dicekal di pelabuhan karena aturan baru dari Washington. Investasi senilai puluhan triliun rupiah yang digelontorkan ByteDance ke Huawei adalah pesan jelas: "Kami harus mandiri."
Tantangan Adaptasi, Tidak Semudah Membalik Telapak Tangan, Pindah dari NVIDIA ke Huawei itu bukan seperti sekadar mengganti merk sepatu. Ini lebih seperti mengganti seluruh sistem operasi komputer Anda dari Windows ke Linux di tengah-tengah proyek besar.
NVIDIA punya ekosistem bernama CUDA, sebuah platform perangkat lunak yang sudah sangat matang dan digunakan oleh jutaan pengembang di seluruh dunia. Seluruh kode program AI milik ByteDance selama ini "berbahasa" CUDA. Ketika mereka mulai menggunakan chip Huawei, para insinyur ByteDance harus bekerja ekstra keras melakukan migrasi ke ekosistem Huawei yang disebut CANN.
Meskipun Huawei sudah berusaha keras membuat proses migrasi ini semulus mungkin, tetap saja ada penurunan efisiensi di masa transisi. Namun, ByteDance tampaknya rela membayar "harga" kerumitan ini demi menjaga agar layanan AI mereka tidak mati kutu di masa depan.
Strategi Bermuka Dua (Double-Hedge), Jangan salah sangka, ByteDance tidak lantas memutuskan hubungan dengan NVIDIA. Mereka sedang menjalankan strategi "dua kaki". Di satu sisi, mereka menjadi pelanggan terbesar Huawei untuk memenuhi kuota kebutuhan mendesak dan menyenangkan pemerintah domestik. Di sisi lain, mereka tetap berupaya mendapatkan setiap keping chip NVIDIA yang masih legal untuk masuk ke China.
Bahkan, ada laporan bahwa ByteDance mulai merancang chip mereka sendiri (custom chip) bekerja sama dengan perusahaan seperti Broadcom. Mereka sadar bahwa bergantung pada satu pemasok siapapun itu adalah risiko bisnis yang terlalu besar.
Dampak Bagi Konsumen dan Masa Depan AI, Apa artinya ini bagi kita, pengguna TikTok atau aplikasi AI lainnya? Singkatnya: kompetisi ini bagus. Persaingan antara Huawei dan NVIDIA (meskipun lewat perantara sanksi) memaksa inovasi berjalan lebih cepat. Jika Huawei berhasil membuktikan bahwa chip mereka mampu menangani beban kerja sekelas ByteDance, maka dominasi global NVIDIA akan mulai retak, setidaknya di pasar Asia.
Bagi ByteDance, langkah "borong chip" ini adalah pertaruhan besar. Jika berhasil, mereka akan menjadi perusahaan AI yang paling tangguh karena tidak lagi tergantung pada satu kutub kekuatan dunia. Jika gagal, mereka mungkin akan tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan dibandingkan pesaing di Barat seperti OpenAI atau Google.
Kisah ByteDance memborong chip Huawei adalah potret nyata bagaimana teknologi tidak bisa lepas dari politik. Ini bukan lagi soal siapa yang punya teknologi paling kencang, tapi soal siapa yang paling lihai beradaptasi di tengah badai sanksi. Huawei mungkin belum menjadi "NVIDIA-killer" dalam skala global, tapi di tanah China, mereka sedang membangun benteng yang sulit ditembus.
Dunia sedang menyaksikan pergeseran kekuatan. Dan ByteDance, dengan segala sumber daya finansialnya, baru saja memilih pihak untuk memastikan algoritma mereka tetap berjalan, apa pun yang terjadi di meja perundingan diplomatik.
